Berita Hawzah – Ayatullah Fadhel Lankarani, dalam upacara penggantian bendera kubah makam suci Musa al-Mubarqa' (putra Imam Jawad as) dan apresiasi atas jasa para pelayan Ahlul Bait as, yang diselenggarakan dengan hadirnya para ulama, pejabat provinsi, dan masyarakat yang mencintai kepemimpinan (wilayah) dalam rangka memperingati hari syahadahnya Imam kesembilan umat Islam dunia, Imam Jawad as, beliau menyampaikan pidato mengenai keutamaan dan pribadi agung Imam Jawad as. Berikut adalah potongan teks ceramah anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom tersebut:
Menjelang syahadahnya Imam kesembilan umat Islam dunia, Imam Jawad as, kita mendapat taufik untuk berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka mengagungkan beliau, serta upacara penggantian bendera kubah makam putra kandung beliau, Imamzadah yang wajib diagungkan, Musa al-Mubarqa', dan memberikan apresiasi atas jasa para pelayan Ahlul Bait as.
Keberkahan Utama Kelahiran Imam Jawad as
Mengenai Imam Jawad as, saya akan menyampaikan beberapa poin dan mengambil beberapa kesimpulan. Ketika Imam Ridha as syahid, Imam Jawad as baru berusia tujuh tahun.
Pertama, sebelum kelahiran Imam Jawad as, orang-orang melontarkan tuduhan dan keberatan kepada Imam Ridha as bahwa beliau mandul dan tidak memiliki keturunan. Imam kedelapan sendiri, sebelum kelahiran Imam Jawad as, bersabda: "Demi Allah, tidak akan berlalu hari-hari dan malam-malam sehingga Allah mengaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki yang dengannya Dia membedakan antara yang hak dan yang batil." Allah akan mengaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki yang akan menjadi tolok ukur antara kebenaran dan kebatilan. Setelah kelahiran Imam Jawad as, beliau juga bersabda: "Ini adalah bayi yang belum pernah dilahirkan seorang bayi yang lebih besar keberkahannya bagi syiah kami darinya." Maksudnya, kelahiran Imam Jawad di antara para Imam dan keturunan beliau sangat penuh berkah. Di sini, orang-orang seperti almarhum Majlisi dan lainnya mencari makna bagaimana bayi ini bisa menjadi yang terbesar keberkahannya? Karena semua Imam kami keberkahan mereka besar, kelahiran dan kehidupan mereka membawa berkah. Lalu mengapa Imam Ridha as mengkhususkan hal ini untuk Imam Jawad as? Poin penting di sini adalah bahwa Allah Swt mengaruniakan kepada Imam kedelapan seorang bayi yang mencapai imamah pada usia tujuh tahun. Dengan berkah kelahiran Imam Jawad as, imamah Imam kedelapan menjadi teguh (terbukti). Karena sebelum imamah Imam kedelapan, muncul kelompok yang disebut Waqifiyah, yang menerima imamah Ahlul Bait hingga Musa bin Ja'far as dan mengatakan bahwa setelah Musa bin Ja'far tidak ada lagi Imam, serta mengingkari imamah Imam kedelapan. Kelompok ini, ketika melihat bahwa beliau (Imam Ridha) sekitar usia 50 tahun belum memiliki anak, mereka berkata: "Bukankah kami sudah bilang dia ini bukan Imam? Seorang Imam tidak boleh mandul dan tidak punya anak." Dengan kelahiran Imam Jawad as, semua keraguan dan gosip ini sirna, dan anak laki-laki ini dengan kelahirannya menegaskan imamah ayahnya dan para Imam Dua Belas. Inilah keberkahan. Adapun para Imam kita yang lain, ilmu, kedermawanan, kemurahan hati, keberanian, kebersamaan dengan rakyat, akhlak, dan keluhuran budi mereka sudah masyhur, dan Imam Jawad as juga demikian.
Makna "Paling Berkah" menurut Imam Ridha as & Al-Majlisi
Tentu saja, almarhum Majlisi berpendapat bahwa ketika Imam Jawad as mencapai kepemimpinan (imamah), terjadi pula kemudahan rezeki dan materi di kalangan Syiah. Namun menurut saya, seluruh rahasia dan pokok persoalannya terletak pada kelahiran dan pengukuhan imamah Syiah itu sendiri.
Poin kedua adalah bahwa di hari kelahiran atau syahadah Imam Jawad as, pengetahuan kita tentang hakikat imamah harus semakin meningkat, karena pesan terpentingnya adalah bahwa Imam Jawad as mencapai imamah di usia tujuh tahun. Bahkan para sahabat Imam Ridha as memandang postur tubuh Imam Jawad as dan berkata, "Mungkinkah dia ini seorang imam? Dia masih belia, bagaimana bisa menjadi imam?" Imam Jawad as bersabda, "Tidakkah kalian membaca Al-Qur'an? Tidakkah Allah berfirman bahwa Kami memberikan kenabian kepada Isa ketika ia masih dalam buaian?" (Kami telah memberinya hikmah selagi ia masih kanak-kanak). Imamah itu sama seperti kenabian.
Atau kadang-kadang sebagian sahabat lainnya keberatan, "Orang-orang mengatakan usiamu masih muda, bagaimana mungkin engkau bisa mengemban imamah di usia semuda ini?" Imam Jawad as bersabda, "Allah mewahyukan kepada Daud: Wahai Daud, angkatlah Sulaiman sebagai penggantimu. Berapa usianya Sulaiman saat itu? Sulaiman masih anak-anak dan menggembala domba, namun Allah menjadikannya sebagai khalifah. Pada masa Daud dan Sulaiman itu, sebagian orang berkata, 'Kami tidak bisa menerima Sulaiman sebagai khalifah pengganti Daud.' Lalu turunlah wahyu: Kumpulkanlah tongkat-tongkat kayu orang-orang yang meragukan itu bersama tongkat Sulaiman di suatu tempat, lalu kunci tempat itu. Esok harinya lihatlah tongkat mana yang mengeluarkan daun dan buah. Jika tongkat Sulaiman yang mengeluarkan daun dan buah, maka terbuktilah klaim Daud.' Keesokan harinya mereka membuka pintu itu, dan di antara sekian banyak tongkat, hanya tongkat Sulaiman yang mengeluarkan daun dan buah."
Pelajaran tentang Hakikat Imamah yang Abadi
Jawaban-jawaban Imam Jawad as ini hendak mengatakan kepada kita bahwa imamah adalah suatu hakikat dan rahasia di antara rahasia-rahasia Allah. Dalam rahasia ini, usia tidak berperan. Bisa saja bayi yang baru berusia satu hari dalam buaian menjadi seorang nabi, dan bisa pula seorang alim yang berusia seratus tahun tidak layak untuk tanggung jawab apa pun! Contoh-contoh kejadian seperti ini banyak dalam sejarah. Setelah syahadahnya Imam Ridha as, para sahabat berkumpul di rumah Abdurrahman bin Hajjaj dan mulai menangis meratap. Yunus bin Abdurrahman berkata, "Mengapa kalian menangis? Duduklah dan selesaikanlah masalah ini: siapakah imam kita? Apakah imam kita anak yang masih belia ini?" Rayyan lalu memegang kerah baju Yunus dan berkata, "Jika urusan ini dari Allah, maka anak berusia satu tahun pun bisa menjadi pemilik urusan ini. Dan jika urusan ini bukan dari Allah, meskipun usianya seribu tahun pun ia tidak akan bisa menjadi imam."
Syahadah sebagai Warisan Agung Imamah
Ini adalah hari-hari syahadahnya Imam Jawad as. Semua Imam syahid. "Tidak ada seorang pun dari kami kecuali dia diracun atau dibunuh." Kalian lihat, peristiwa menyayat hati berupa syahadahnya pemimpin agung kita (Imam Khamenei) juga berada dalam jalur yang sama. Seorang putra dari salah satu Imam kita, seorang fakih yang memenuhi syarat (jami' asy-syarā'ith), yang sepanjang hidupnya berada di medan perjuangan untuk Islam dan melayani umat, untuk melayani Syiah, dan dia tahu bahwa pada akhirnya dia akan mencapai syahadah, namun dia berdiri dengan berani dan penuh wibawa. Kita semua nilai-nilai kita berasal dari imamah. Wahai saudara-saudari sekalian, renungkanlah masalah imamah dan lihatlah, keyakinan kalian tentang imamah itu sampai derajat yang mana? Pada akhirnya, segala puji bagi Allah, kita semua meyakini pokok imamah, namun (iman itu) memiliki tingkatan-tingkatan. Salah satu tingkatan pemahaman tentang walayah adalah ketika umat ini menyatakan: "Kami siap untuk syahadah." Dari mana pendidikan (seperti) ini berasal? Pendidikan ini berasal dari Imam Jawad, Imam Husain, dan Amirul Mukminin as. Merekalah yang mendidik kita. Kita bisa mengatakan bahwa warisan besar imamah adalah syahadah.
Wahai saudara-saudariku yang terhormat, para pelayan yang mulia, saudara dan saudari, di mazhab mana ada warisan seperti ini? Apakah kalian mengenal seorang ulama besar dari mazhab lain yang syahid? Kita memiliki dua belas Imam, sebelas di antaranya syahid. Dan Imam Hujjah (Imam Mahdi as) —ketika beliau bangkit— kesudahannya adalah syahadah. Itu dari para Imam kita sendiri. Banyak pula para wakil (na'ib) dari para Imam ini, yang oleh perintah Imam dijadikan sebagai pemimpin masyarakat Syiah, mereka juga syahid. Di antara para fakih Syiah, kita memiliki banyak syuhada. Karena para Imam mengajarkan kepada kita: "Teguhlah untuk Islam, meskipun kalian harus menjadi syahid. Tetaplah berada di medan perjuangan untuk membela Syiah, hadirlah meskipun kalian akan syahid." Dan ini bukanlah warisan yang kecil. Kita mendapatkan ini berkat syahadahnya para Imam Maksum as. Warisan apa yang lebih berharga dari ini yang bisa kita miliki?
Imam Jawad as diracun. Jenazah beliau yang mulia terbaring di tanah selama beberapa hari, sama seperti kakeknya yang syahid, Aba Abdillah al-Husain as. Namun bedanya, istri dan anak Imam Jawad as tidak menyaksikan di atas Tel Zainabiyah kepalanya dipenggal. Jenazah Imam Jawad as tidak diinjak-injak di bawah telapak kuku kuda, tetapi dengan telapak kaki yang baru, jenazah Aba Abdillah al-Husain as dihancurkan.
"Dan kelak orang-orang yang zalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS Asy-Syu'ara: 227)
Komentar Anda